Habibie, Sebuah Legenda

Siapa yang tak mengenal Habibie, tokoh fenomenal Indonesia ini , sampai sekarang belum ada yang menandingi kepiawaiannya.  Habibie tak sekedar cerdas dalam bidang Teknologi Kedirgantaraan, Ia juga seorang Cendekiawan Muslim yang handal, dan Ekonom yang mumpuni.  Sayangnya, pemikirannya dibidang ekonomi, belum terpublikasi secara luas.

Habibie adalah tokoh yang sangat kita banggakan.  Pemikiran-pemikiran Habibie kembali dikenang orang, terlebih setelah kepergian beliau untuk selamanya pada 11 September 2019.  Presiden Republik Indonesia ke tiga ini, mempunyai masa jabatan terpendek sebagai presiden, dibandingkan dengan presiden-presiden lain di Indonesia.  Habibie memang tak pernah menginginkan jabatan itu.  Ia diminta menggantikan Soeharto, ketika Soeharto mundur karena desakan Gerakan Reformasi, pada 21 Mei 1998.

Habibie telah mengangkat nama Gorontalo, sebagai daerah tempat asal keluarganya,.  Masyarakat Gorontalo menjadikannya sebagai tokoh Inspiratif.  Mereka bahkan menginginkan anak-anaknya cerdas seperti Habibie.  Bonggulo adalah sebutan yang melekat pada Habibie yang berarti dahi atau jidat yang lebar. Simbol kecerdasan. Habibie juga dikenal dengan sebutan Minggulo, artinya bola matanya besar, lincah dan memiliki sorot mata yang tajam.

Salah satu menu khas Gorontalo kesukaan Habibie adalah Sagela, sambal dari ikan kering.  Ia bahkan pernah membawanya ke Jerman.  Kecintaannya pada Gorontalo, memberi contoh kepada kita, bahwa sejauh apapun kita melanglang buana, tapi kampung halaman tak pernah terlupakan. Konon, Rudy (nama kecil Habibie) pernah menjalani prosesi khitanannya di kediaman kakeknya di Gorontalo.

Bacharuddin Jusuf Habibie, nama lengkap Habibie, adalah nama pemberian Ayahnya Alwi Habibie.  Pada Zaman Belanda, Alwi Habibie merantau untuk menempuh Pendidikan di Institut Pertanian Bogor.  Setelah lulus dari IPB, Alwi ditugaskan di Pare-Pare dan menikah dengan Tuti Marini Puspowardjojo.  Keturunan ningrat asal Yogyakarta.  Di Kota inilah Habibie dilahirkan. Kelak, Habibie dan juga Putra-putranya, Ilham dan Thareq , menikah dengan menggunakan adat Gorontalo.

 Sedari kecil, Habibie adalah sosok yang kritis, banyak bertanya, banyak orang menyebutnya cerewet, serba ingin tahu. Termasuk sewaktu kecil ia bertanya mengapa balon yang ditiupnya tidak bisa bulat, seperti layaknya balon yang biasa ditiupnya, padahal itu bukan balon, tapi kondom yang ditemukan ia dan kawan-kawannya disekitar pelabuhan.  Ia baru faham hal itu, saat telah berkuliah di Jerman.  Dan baru faham juga mengapa ibunya menyuruhnya berkumur-kumur dengan air yang agak panas dalam jumlah yang banyak sekali.  

Masa kecil Habibie dilalui Bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare.  Ia suka menunggang Kuda dan berenang.  Habibie berpesan kepada anak-anak Indonesia untuk tidak terlalu sering bermain internet. Imbangi dengan permainan di luar rumah, katanya.  Ia juga mengingatkan akan pentingnya asupan makanan bergizi, karena makanan bergizi inilah yang menurut Habibie mendukung kecerdasan berfikirnya.

Panggilan Habibie kecil adalah Rudy.  Rudy  sudah pandai membaca Al Qur’an pada usia 3 tahun.  Hal ini karena ayahnya kerap membacakan Al Qur’an untuknya.  Meski telah pandai mengaji, ayahnya tetap mendatangkan guru ngaji ke rumah mereka.  Ia memanggil guru ngajinya dengan sebutan Kapten Arab. Karena senang melihat kepandaian Rudy, guru ngajinya ini sangat sayang, dan memanggilnya Habibie.  Awalnya Habibie tidak begitu faham makna kata itu, sampai suatu ketika di sebuah Bandara di Turky, ada yang memanggil-manggil Habibie, baru ia tahu bahwa Habibie itu bermakna “kekasihku”.

Beberapa kebiasaan baik Habibie lainnya yang patut dicontoh adalah bangun super pagi, menghabiskan 7,5 jam dalam sehari untuk membaca dan menulis.  Untuk kegemaran membaca ini, Habibie memiliki perpustakaan pribadi di daerah Patra, dengan judul buku tak kurang dari 5000. Habibie juga tidak pernah meninggalkan ibadah.  Satu lagi kebiasaan Habibie yang menyebabkannya jadi orang hebat adalah, ia tak pernah tidur lebih dari empat jam sehari. Sisa hidupnya digunakan untuk hal-hal yang produktif.   “Dari lahir, saya Cuma butuh tidur 4 jam, dua puluh jam sisanya, saya menyerap lingkungan dan bertanya-tanya”, katanya.  Sumber lain mengatakan 20 jam sisanya untuk belajar, beribadah, dan berolah raga.  Luar biasa.

Kecerdasan Habibie, memang diatas rata-rata.  IQ nya melebihi IQ Einstein yang hanya 160, sedangkan Habibie, menurut sebuah sumber adalah 200.  Menurutnya, tidak hanya IQ yang menentukan kesuksesan belajarnya, namun ada beberapa hal yang menjadi sikap belajarnya.  Pertama, ia selalu berusaha konsentrasi ketika belajar. Kedua, tak sungkan banyak bertanya untuk sesuatu yang membutuhkan penjelasan.  Ketiga, banyak membaca. Keempat, minum banyak air dan makan seperlunya.  Kelima, rajin mengaji dan beribadah.

Pada usia 13 tahun, Habibie ditinggal wafat oleh ayahnya.  Ayahnya wafat, saat menjadi imam sholat Isya.  Sejak saat itu, ibunya bersumpah akan menjadikan anak-anaknya sebagai orang yang berguna bagi negara, bangsa, dan agama.  Habibie yang sosok pembelajar itupun merantau ke Jawa untuk belajar Teknik Mesin di Universitas Indonesia Bandung pada tahun 1954.  Kelak Universitas ini bernama Institut Tekhnologi Bandung.

Kecerdasan Habibie sebenarnya dapat membuat Ia dengan mudah menerima beasiswa, namun ibunya tidak setuju.  Habibie menyelesaikan S1, S2, dan S3 nya secara mandiri.  Gelar Doktor dibidang Tekhnik, diraihnya dari Universitas Aachen, Jerman, pada usia 28 tahun, dengan predikat summa cumlaude.  Habibie banyak meraih prestasi di bidang kedirgantaraan.  Di luar negeri, Habibie mendapatkan  Penghargaan Edward Warner Award dan Award von Karman karena keberhasilannya menemukan factor Habibie.  Penghargaan tersebut setingkat penghargaan Nobel.  Di Indonesia, Habibie mendapatkan penghargaan tertinggi yaitu Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana dari ITB.

Penemuan Habibie sangat gemilang.  Ia menemukan teori Keretakan Pesawat karena factor kelelahan rangka pesawat.  Oleh karena penemuan penting ini Habibie dijuluki Mr. Crack oleh dunia Aviasi Internasional.  Kegemilangan ini, diabadikan dalam sebuah Buku Berjudul Mr. Crack dari Pare-pare.  Beliau dikenal sebagai Bapak Tekhnologi Indonesia.  Habibie diminta oleh Presiden Soeharto untuk pulang ke Indonesia.  Pria Kelahiran Pare-pare 25 Juni 1936 ini diangkat sebagai Menteri Riset dan Tekhnologi pertama di Indonesia.  Puncaknya, Habibie diangkat sebagai Presiden RI ke 3, menggantikan Soeharto yang dipaksa turun oleh Gerakan Reformasi.

Habibie tidak hanya menginspirasi kita dalam hal ilmu pengetahuan dan tekhnologi.  Ada sisi menarik dari kehidupan Habibie, yaitu romantisme dan kesetiaannya pada Ainun.  Istri yang sangat dicintainya.  Romantisme kisah Cinta mereka diabadikan dalam sebuah Film Romantis “Habibie dan Ainun”.  Meskipun Ibu Ainun telah wafat Sembilan tahun yang lalu, namun Habibie telah menyediakan liang lahat untuk dirinya disamping Ainun.  Pada tanggal 11 September 2019, Habibie memenuhi janjinya menemani Ainun di peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 

Selamat jalan Habibie, semoga pelajaran berharga dari perjalanan hidupmu dapat menjadi inspirasi bagi anak bangsa, sehingga kelak lahir Habibie-Habibie baru di Indonesia yang juga dapat  mengharumkan nama Indonesia.

 

-Dian Martiani, praktisi Pendidikan-

Dari berbagai Sumber.